Minggu, 04 November 2012

Waspada....!!!!Contoh Kasus Hacking Social Engineering

        Social engineering adalah teknik memperoleh informasi rahasia dengan menipu pemilik informasi itu yang umumnya dilakukan lewat telepon atau internet. Social engineering sendiri merupakan salah satu metode yang digunakan hacker untuk mendapat informasi korbannya, dengan meminta informasi langsung ke korban atau pihak lain yang tahu.



Terdapat beberapa hal yang menjadi faktor utama yang menyebabkan teknik social engineering efektif dilakukan oleh seorang penyerang, antara lain adalah sebagai berikut:
  • Kelengahan yang disertai dengan ketidakwaspadaan seseorang sehingga mudah sekali terperdaya oleh suatu keadaan.
  • Keisengan para hacker pada awalnya, membuat peluang yang lebih besar untuk memperdaya orang lain.
  • Kecanggihan teknologi.
        Content social networking atau jejaring sosial seperti Facebook, YM, Twiter, dan email bisa dijadikan alat untuk melakukan social engineering. Dampak yang mungkin ditimbulkan adalah keresahan masyarakat terkait ruang privasi dalam hidup karena account pribadi seseorang bisa saja sudah “dibajak”, kriminalitas yang meningkat, misalnya karena penyadapan no PIN serta manipulasi data untuk mendapatkan password suatu account.

        Social engineering mengkonsentrasikan diri pada rantai terlemah sistem jaringan komputer, yaitu manusia. Seperti kita ketahui, tidak ada sistem komputer yang tidak melibatkan interaksi manusia. Parahnya lagi, celah keamanan ini bersifat universal dimana tidak tergantung platform, sistem operasi, protokol, software, ataupun hardware. Artinya, setiap sistem mempunyai kelemahan yang sama pada faktor manusia.

        Setiap orang yang mempunyai akses ke dalam suatu sistem secara fisik akan menjadi ancaman, bahkan jika orang tersebut tidak termasuk dalam kebijakan kemanan yang telah disusun. Seperti metode hacking yang lain, social engineering juga memerlukan persiapan, bahkan sebagian besar pekerjaannya meliputi persiapan itu sendiri. Persiapan tersebut meliputi, misalnya sebuah identitas palsu untuk mengelabui korban ketika berkomunikasi dengan korban dalam memperoleh informasi.

        Berikut ini adalah sebuah contoh percakapan seseorang yang hendak mencuri data credit card dengan mengaku sebagai customer service bank. Teknik ini sering kali ditiru bahkan disalahgunakan oleh para carder. Selain dari petugas bank, banyak pula yang mengaku dari petugas departemen lainnya, konsultan keuangan, pihak penjamin kartu kredit, bagian asuransi kartu kredit, dan lain sebagainya.

        Ilustrasinya adalah sebagai berikut. Korban menerima sebuah telepon dari seseorang yang bersuara ramah dan mengaku sebagai Customer Service tempat bank kartu kredit miliknya. Pada umumnya, mereka beralasan untuk melakukan survei. Umpama korban bernama “Budi”, sedangkan penyerang sebut saja “Fiktif CS”. Berikut contoh dialognya
.


Fiktif CS : Halo, selamat pagi. Bisa bicara dengan Bapak Budi?
Budi        : Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?
Fiktif CS : Bapak Budi, kami dari card center Bank Kaya Raya Sejahtera ingin melakukan survei mengenai  kartu kredit bapak sebab kami akan melakukan kenaikan limit untuk kartu kredit yang bapak miliki saat ini.
(Modus tersebut bisa juga berupa perubahan sistem bank, menawarkan bonus/hadiah, mendata ulang customer, memastikan transaksi yang dilakukan sebelumnya, meng-upgrade kartu menjadi Gold/Platinum).
Budi        : O, iya silahkan.
Fiktif CS : Tagihan Bapak Budi dialamatkan kemana?
Budi        : Jl. Kesasar Gang Buntu No.13 Malang sekali.
Fiktif CS : Alamat tinggal Bapak Budi saat ini?
Budi        : Jl. Uranium Niklir no.911
Fiktif CS : Tanggal lahir bapak?
Budi        : 17 Agustus 1945.
Fiktif CS : Maaf Pak, nama ibu kandungnya?
Budi        : Emak Guwe
Fiktif CS : Tolong sebutkan 16 digit nomor kartu kredit bapak.
Budi        : Tunggu sebentar ya, saya ambil dulu dari dompet.
Fiktif CS : Silahkan.
Budi        : Halo, ini nomornya: 1234 5678 9012 3456.
Fiktif CS : Tolong sebutkan 3 angka terakhir di belakang kartu Anda.
Budi        : Kalo yang di belakang, 212.
Fiktif CS : Kartu kredit bapak berlaku sampai kapan?
Budi        : Desember 2015
Fiktif CS : Baik Pak Budi, data Anda sudah cukup. Kartu kredit bapak akan segera kami proses. Terima kasih atas waktunya.
Budi        : Sama-sama.

        Sepintas percakapan ini biasa saja dan tak ada yang mencurigakan. Itulah teknik social engineering untuk melakukan fraud/penyalahgunaan kartu kredit. Akibatnya, data kartu kredit Pak Budi dimiliki orang lain.

        Saat billing tagihan datang di bulan berikutnya, ada transaksi yang besar. Padahal Pak Budi tidak pernah melakukan transaksi itu. Dari percakapan telpon, limit Pak Budi juga tidak naik. Baru Pak Budi sadar akan kelalaiannya. Dari penjelasan ini, ternyata melakukan aktivitas carding bisa dilakukan dengan mudah tanpa alat, hanya dengan modal nekat yaitu dengan teknik social engineering.

Sumber: buku The Genius, Hacking untuk Membobol Facebook & Email
Penulis: Muzammil Sanusi
Penerbit: Elex Media Komputindo

0 komentar:

Poskan Komentar